Pernah bayangin nggak sih, baju yang kamu pake itu hidup? Bukan cuma bahannya organik, tapi beneran punya aktivitas biologis. Kalo robek, dia bisa tumbuh lagi nutupin lukanya sendiri. Kedengerannya kayak film fiksi ilmiah, ya? Tapi ini beneran terjadi di runway September 2026.
Dari jamur yang diubah jadi kulit mewah, sampai bakteri yang ngehasilin warna-warna cerah alami—dunia fesyen lagi mengalami kebangkitan biologis. Bukan cuma soal ramah lingkungan, tapi soal estetika baru yang lahir dari kolaborasi antara desainer dan mikroorganisme. Penasaran? Yuk, kita intip tren yang lagi mendominasi ini!
Mycelium Leather: Dari Limbah Jadi Kemewahan
Siapa sangka, jamur yang biasa kita liat di halaman rumah atau di menu sup bisa jadi bahan baku tas Bottega Veneta? Tapi ini bukan jamur sembarangan—ini mycelium, jaringan akar jamur yang tumbuh jadi lembaran mirip kulit.
Bottega Veneta dan Ephea
Bulan ini, Bottega Veneta—brand mewah di bawah Kering—nge-rilis koleksi terbatas barang kecil berbahan Ephea, alternatif kulit dari mycelium buatan startup Italia Sqim . Ini bukan pertama kalinya Kering main di material alternatif, tapi ini pertama kalinya Bottega Veneta beneran pake mycelium di koleksi andalannya—termasuk anyaman intrecciato yang jadi ciri khas mereka .
“The introduction of woven mycelium in Bottega Veneta’s collection is a compelling example of how material innovation can open new creative possibilities, while upholding the exceptional standards of quality, desirability, and savoir-faire that define luxury,” kata Marie-Claire Daveu, Chief Sustainability Officer Kering .
Ini adalah momen penting. Kenapa? Karena sebelumnya, mycelium leather sempat naik-turun. Bolt Threads berhenti produksi Mylo-nya di 2023, Mycoworks tutup pabriknya di 2025 . Tapi Bottega Veneta nunjukin bahwa dengan perlakuan yang tepat—perlakuan yang sama kayak kulit konvensional—mycelium bisa jadi bahan yang desirable .
MYCL: Kebanggaan Indonesia di Paris Fashion Week
Dan nggak cuma brand global—Indonesia juga punya pemain besar di sini! MYCL (Mycotech Lab) dari Bandung udah nembus Paris Fashion Week lewat kolaborasi sama brand streetwear Jepang Doublet . Produk mereka, Mylea™, terbuat dari miselium jamur yang ditumbuhin di limbah pertanian kayak sekam jagung dan serpihan kayu .
Prosesnya mirip bikin tempe—seriusan, terinspirasi dari fermentasi tradisional Jawa! . Hasilnya? Material yang tahan air, tahan api, fleksibel, dan—yang paling penting—nggak pake bahan kimia berbahaya kayak kromium .
Dengan kapasitas produksi 10.000 kaki persegi per tahun, MYCL udah ngirim produk ke lebih dari 750 klien di Asia, Eropa, dan Amerika . Mereka bahkan dapet pendanaan dari P4G (USD 440.000) dan udah jadi finalis Earthshot Prize-nya Pangeran William .
Self-Healing Fabric: Baju yang Bisa “Sembuh” Sendiri
Kalo mycelium leather udah mulai mainstream, ada inovasi lain yang masih di tahap riset tapi potensinya gila-gilaan: kain yang bisa memperbaiki diri sendiri.
Tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences di Shenzhen berhasil bikin kain dari miselium Cordyceps militaris—atau di Indonesia dikenal sebagai jamur ulat—yang tetap hidup dalam keadaan dorman .
Gimana cara kerjanya?
- Kainnya dibuat dari miselium yang nggak dimatiin dengan proses kimia—cuma dibikin “tidur” .
- Kalo kainnya robek atau baret, kamu tetesin nutrisi khusus di bagian yang rusak.
- Dengan kelembapan dan suhu yang tepat, miselium “bangun”, tumbuh, dan menambal sendiri lukanya .
Nggak cuma self-healing, kain ini juga:
- Bisa diwarnai pake bakteri hasil rekayasa genetika—dan udah bisa dibikin pola kayak bunga salju .
- Punya struktur hidrofobik kayak daun teratai—air nggak nempel .
- Bisa terurai sempurna di tanah dalam 40 hari .
“菌丝本身它是有活性的,我们更想利用它的活性,比如能感知环境中的这个信号,然后产生不同功能的这样一个活体材料出来,让它有自己的大脑。” — Li Ke, asisten peneliti di Chinese Academy of Sciences .
Terjemahan bebasnya: “Miselium itu sendiri hidup. Kita mau memanfaatkan aktivitasnya—misalnya dia bisa mendeteksi sinyal lingkungan dan menghasilkan material hidup dengan fungsi berbeda. Kayak punya ‘otak’ sendiri.”
Tentu saja, ini masih di tahap laboratorium. Tapi ini ngebuka jalan ke “textile yang bisa diprogram”—kain yang bukan sekadar bahan mati, tapi bisa diaktifkan, diistirahatkan, dan diperbaiki kayak organisme hidup .
Pewarna Bakteri: Warna dari Mikroba, Bukan Kimia
Bagian lain dari kebangkitan fesyen biologis adalah cara mewarnai kain. Pewarna sintetis konvensional itu boros air banget—dan bikin limbah beracun.
Colorifix: Pewarna dari Bakteri Rekayasa Genetika
Startup asal Inggris, Colorifix (didukung sama H&M), ngembangin metode pewarnaan pake bakteri yang “diprogram” buat ngeluarin pigmen warna . Caranya:
- Ilmuwan ambil gen warna dari alam (misalnya dari bulu burung atau sayap kupu-kupu).
- Gen itu dimasukin ke sel bakteri—bakterinya jadi “pabrik warna”.
- Bakteri ini ditempel ke kain, dan sel-selnya nge-release pigmen langsung ke serat.
- Terakhir, kainnya dipanasin sebentar buat matiin bakteri .
Hasilnya? Penggunaan air turun sampai 90%, nggak pake bahan kimia berbahaya, dan prosesnya jalan di suhu lebih rendah .
OXMAN: Tumbuhin Warna di Atas Kain
Sementara itu, studio desain OXMAN pimpinannya Neri Oxman (mantan profesor MIT) ngejalanin proyek bernama Vigils—di mana warna tumbuh langsung di permukaan kain lewat aktivitas bakteri pigmen .
Ini bukan cuma soal efisiensi—tapi soal filosofi desain. OXMAN menyebut pendekatan ini Nature-Centric Design: desainer nggak cuma meniru alam, tapi bekerja sama dengan organisme hidup selama proses produksi .
Mengingat industri tekstil menghasilkan sekitar 20% limbah cair industri dunia dan pake 93 miliar meter kubik air per tahun, potensi teknologi ini buat ngurangin dampak lingkungan gila banget .
Bukti Nyata: Dari Runway ke Lemari
Ini bukan lagi sekadar konsep lab atau koleksi edisi terbatas. Tren fesyen biologis mulai menjangkau pasar yang lebih luas:
- BioFleax—material 100% nabati—dipakai di jaket bomber koleksi Stella McCartney x H&M Spring 2026 . Ini nunjukin bahwa material inovatif udah bisa masuk ke produksi massal, bukan cuma koleksi eksklusif.
- AMSilk—bioengineered silk dari protein laba-laba rekayasa genetika—dipakai Balenciaga di koleksi Spring 2026. Produksinya pake 97% lebih sedikit air dan emit 81% lebih sedikit CO₂ dibanding sutra konvensional . Dan materialnya udah certified bebas mikroplastik .
- Mushmycel—startup asal California—bikin aksesoris dari limbah multiple sources: sisa jamur, kulit apel, sabut kelapa, dan ampas kopi . Pendekatan ini ngurangin emisi dari dua sumber sekaligus: limbah makanan dan produksi kulit konvensional.
Data dan Fakta di Balik Tren Ini
- Global mycelium leather market punya supply gap hingga 13.000%—artinya permintaan jauh lebih gede dari kapasitas produksi saat ini .
- MYCL sendiri berhasil naikin klien B2B dan B2C dari 142 di 2024 jadi 309 di 2025—naik 117% .
- Kering nargetin 40% ready-to-wear dari material alternatif pada 2035, dan 30% pengurangan intensitas kulit sapi pada 2028 .
Kesalahan Umum Seputar Fesyen Biologis
- Ngomongin “ini cuma tren sementara” —Padahal ini adalah pergeseran struktural. Brand kayak Kering dan H&M nggak investasi gede kalo cuma buat gimmick sesaat.
- Berpikir material biologis itu “kurang mewah” —Bottega Veneta dan Balenciaga ngebuktikan sebaliknya. Yang bikin mewah adalah craftsmanship, bukan asal bahan.
- Khawatir jamur atau bakteri “hidup” di tubuh —Kain mycelium yang dipake di fesyen udah mati (diproses pemanasan). Kain self-healing yang masih hidup pun nggak akan aktif tanpa nutrisi khusus—dan nggak berbahaya buat kulit .
Tips Gue: Kalo kamu tertarik pake fesyen biologis, mulai dari aksesoris dulu—tas atau dompet dari mycelium leather. Brand kayak MYCL udah produksi buat pasar konsumen (walau masih B2B dominan). Pantau terus kolaborasi lokal dan global, karena harga bakal makin terjangkau seiring skala produksi naik.
Kesimpulan
Fesyen biologis bukan lagi mimpi. Dari mycelium leather yang dipake Bottega Veneta dan MYCL, self-healing fabric dari laboratorium China, sampai pewarna bakteri yang ngurangin 90% air—semua ini terjadi sekarang.
Keyword utama dari tren ini adalah kolaborasi. Bukan cuma antara desainer dan teknologi, tapi antara manusia dan mikroorganisme. Kita nggak cuma “mengambil” dari alam—kita bekerja sama dengannya. Dan hasilnya? Bukan cuma fesyen yang lebih ramah lingkungan, tapi fesyen yang beneran baru secara estetika dan filosofi.
Runway September 2026 nunjukin satu hal: masa depan fesyen itu hidup. Dan itu baru permulaan