Gue inget banget. Dulu, gue pernah buka lemari mama. Nemu jaket denim biru tua dengan kerah lebar. Kelihatan banget jadulnya. Pas gue coba, mama cerita: “Itu jaket dulu gue pake pas kuliah. Dipake kencan pertama sama ayah lo.”
Gue langsung jatuh hati. Jaket itu punya cerita. Bukan sekadar potongan kain.
Sekarang? Coba lo buka TikTok atau Instagram. Banyak banget anak muda pamer outfit dari lemari orang tua mereka. Pake tagar #OOTDOrangTua atau #ThriftingKeluarga. Bukan karena mereka gak punya duit beli baju baru. Tapi karena sadar: pakaian baru di mall itu “boring, desainnya sama semua, dan nggak punya cerita.”
April 2026 ini, tren ‘pakai baju orang tua’ mulai digandrungi Gen Z. Bukan cuma tren thrifting biasa. Ini adalah inheritance fashion—memakai baju orang tua bukan karena hemat, tapi karena pakaian itu punya nilai sentimental yang tidak bisa dibeli di mal .
Anak muda sekarang bilang: *”Kenapa beli jaket baru yang design-nya copas dari 90-an, kalau punya bapak asli dari tahun segitu juga?”*
Kenapa Baju Baru Kehilangan Daya Tarik? Fast Fashion Bikin Bosan
Dulu, beli baju baru di mal itu prestise. Sekarang? Generasi Z justru menghindari pemborosan konsumtif .
Berdasarkan riset Populix tentang perilaku belanja anak muda 2026, hanya 29% responden yang masih menganggap baju baru sebagai keharusan. Sisanya lebih milih baju yang layak pakai (30%) atau cuma beli kalau kondisi keuangan lagi “sehat” (26%) .
Geserannya jelas: kualitas dan makna lebih penting daripada “baru”.
Tambah lagi, Gen Z sekarang lebih suka pilihan yang konservatif dan tradisional—potongan klasik, palet netral, siluet sederhana . Bukan karena mereka kuno. Tapi karena mereka lelah dengan siklus fast fashion yang gila-gilaan.
Mereka bilang: “Di mal, baju itu semua sama. Modelnya copas dari tahun lalu, cuma ganti warna. Beli barang baru cuma buat foto di feed, abis itu gak pernah dipake lagi.”
Makanya, mereka beralih ke lemari orang tua. Karena di sana, ada keunikan yang nggak bakal ditemukan di Zara atau H&M.
‘Inheritance Fashion’: Bukan Sekadar Thrifting
Ini bedanya. Thrifting biasa lo cari barang bekas di pasar loak. Itu keren, tapi impersonal. Inheritance fashion punya lapisan makna yang lebih dalam.
Kenapa?
Pertama, pakaian warisan adalah “arsip keluarga” . Setiap kali lo pake jaket kulit ayah dari tahun 90-an, lo gak cuma pake jaket. Lo pake memori. Lo pake cerita ayah lo yang dulu pakai jaket itu buat nge-date, kuliah, atau naik motor bonceng tiga. Ini bukan sekadar fashion—ini sejarah yang hidup .
Seorang Gen Z bilang di unggahan viral TikTok: “Aku merasa lebih dekat dengan mendiang ibuku saat mengenakan baju ini. Rasanya kayak dia lagi peluk aku.”
Kedua, pakaian warisan itu unik dan nggak massal. Baju mal diproduksi ribuan potong. Baju dari lemari orang tua lo? Kemungkinan cuma ada satu di dunia. Apalagi kalau itu pakaian edisi terbatas dari tahun 80-an atau 90-an. Lo gak akan ketemu orang lain pake baju yang sama. Buat Gen Z yang haus akan identitas, ini sangat berharga.
Ketiga, ada nilai keberlanjutan (sustainability). Gen Z, secara umum, lebih sadar akan isu lingkungan dibanding generasi sebelumnya. Memakai pakaian warisan adalah bentuk protes terhadap industri fast fashion yang boros dan penuh limbah . Mereka sadar: “Bumi udah panas. Produksi baju baru cuma bikin masalah lingkungan lebih parah.”
Keempat, ini menghemat uang (yang bisa dialokasikan untuk hal lain). Gen Z punya prioritas keuangan yang berbeda. Daripada beli baju branded mahal, mereka lebih milih investasi pengalaman, traveling, atau saving. Mengenakan pakaian warisan dengan gaya modern adalah cara cerdas untuk tetap stylish tanpa menguras dompet .
3 Contoh Spesifik: Mereka yang Pilih Baju Orang Tua
Kasus #1 – Luanne & Carlene, mahasiswa Ubaya (Surabaya)
Dua mahasiswa Desain Fashion Ubaya ini membuktikan bahwa baju bekas ayah bisa jadi karya seni tingkat Asia. Mereka berhasil menciptakan kostum bertema “The Retro-Creative Nexus” dari pakaian bekas milik orang tua, yang meraih Juara 2 di Asian Student Fashion Week 2025 kategori Sustainable Design .
Mereka mengambil pakaian-pakaian lama milik orang tua—seperti celana cutbray, jeans, dan motif garis khas era 2000-an—lalu dirombak menjadi baju baru. Karyanya mengangkat gaya Retro Y2K yang lagi nge-tren saat ini .
“Idenya berasal dari fenomena kembalinya gaya fesyen Retro Y2K. Gaya ini menjadi simbol kebebasan bagi generasi Z,” ujar Luanne .
Kasus #2 – Mahasiswa di Jakarta (Anonim)
Seorang pengguna TikTok membagikan video mengenakan mantel milik ibunya saat masih kuliah di tahun 90-an. Dia bahkan tahu persis tahun pembelian mantel itu, warnanya, dan cerita di baliknya. Videonya viral karena netizen tersentuh dengan cara dia menghormati memorinya .
Kasus #3 – Selebriti Inspirasi Global (Meski bukan Gen Z, jadi contoh tren)
Di India, tren ini sudah lebih dulu terjadi dan menginspirasi Gen Z. Selebritas seperti Esha Gupta sering terlihat memakai sari sutra Benarasi warisan dari ibunya atau neneknya. Mereka menganggap pakaian warisan bukan sekadar kain, tapi “ungkapan keberuntungan dan cinta” .
Sonam Kapoor Ahuja juga pernah mengenakan gharchola milik ibunya yang berusia 35 tahun untuk acara keluarga . Di Hollywood, Angelina Jolie membiarkan putrinya, Zahara, mengenakan gaun Elie Saab yang pernah ia kenakan di Oscar 2014 .
Prinsipnya sama: pakaian warisan itu sakral. Gen Z Indonesia mulai mengadopsi nilai ini.
Mahasiswa kreatif seperti Luanne dan Carlene juga menjadi bukti bahwa Gen Z tidak hanya mengonsumsi tren, tetapi juga menciptakan karya bermakna dari warisan keluarga .
Tren yang Berkaitan: Nostalgia Y2K dan Digicam
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ini bagian dari kerinduan Gen Z akan era pra-internet yang lebih “autentik”.
Salah satu tren fesyen terbesar Gen Z 2026 adalah Nostalgia Y2K (Fesyen Era 2000-an). Ciri-cirinya: crop top, low-rise jeans, motif garis, dan layering .
Tren ini dipopulerkan oleh para idol K-Pop yang sering mengadopsi gaya 2000-an. Tapi Gen Z ingin lebih dari sekadar estetika. Mereka ingin yang asli.
Maka mereka masuk ke lemari orang tua. Daripada beli reproduction crop top di mall, mereka ambil crop top asli dari jaman ibunya kuliah. Daripada beli kamera dengan filter retro, mereka beli digicam (kamera digital lama) asli tahun 2000-an yang hasil fotonya blur dan kekuningan—justru itu yang bikin estetik .
Lihat polanya? Gen Z tidak ingin replika. Mereka ingin artefak. Dan artefak itu ada di lemari orang tua.
Common Mistakes: Gagal Memakai Baju Warisan (atau Gagal Keren)
Buat lo yang tertarik, jangan asal comot. Ini kesalahan yang sering terjadi:
1. Lo Pilih Baju yang Terlalu “Tua” Secara Desain
Baju tahun 70-an beda dengan baju tahun 90-an. Baju tahun 70-an mungkin potongannya flare banget atau bahannya polyester tebal yang panas. Baju 90-an (Y2K) lebih easy to wear.
Solusinya: Mulai dari era 90-an atau awal 2000-an. Itu yang lagi tren . Tanya orang tua lo, “Mama, dulu punya jeans cutbray nggak?” atau “Papa, jaket kulitnya masih ada?”
2. Lo Pake Baju Warisan Polos-polos Tanpa Layering
Lo ambil kemeja kotak-kotak milik ayah dari tahun 98, lalu lo pake polosan kayak bapak-bapak. Hasilnya? Lo keliatan kayak beneran bapak-bapak. Bukan retro yang keren.
Solusinya: Kombinasikan dengan item modern. Kemeja kotak-kotak oversize ayah lo + celana kulot hitam + sneakers putih. Mix and match. Gaya retro yang fresh.
3. Lo Pilih Baju yang Sudah Rusak Parah
Baju warisan boleh vintage, tapi bukan berarti robek dan belel. Gen Z tetap menghargai kualitas. Pakaian yang udah dimakan ngengat, nodanya bandel, atau jahitannya lepas? Mending simpan kembali sebagai kenang-kenangan, jangan dipaksa jadi outfit.
Solusinya: Pilih yang kondisinya masih layak. Kalau perlu, bawa ke penjahit untuk “restorasi” ringan—betulin kancing, rapihin jahitan, bersihin noda. Beberapa fashion house bahkan merekomendasikan perbaikan seperti ini untuk menjaga pakaian warisan tetap relevan .
4. Lo Nggak Tahu Cerita di Balik Baju Itu
Ini yang paling parah. Lo pake baju warisan, tapi lo nggak tahu sejarahnya. “Ini punya siapa? Dibeli tahun berapa? Dipakai untuk acara apa?”
Padahal, esensi dari inheritance fashion justru di cerita.
Solusinya: Sebelum pake, tanya orang tua lo. Atau lo tulis caption-nya di media sosial. Bagikan kisahnya. Itu yang bikin outfit lo beda dari yang lain.
Contoh: “Kaos ini dulu dipakai ayah pas masih kuliah di tahun 94. Beli di Pasar Senen cuma 20 ribu. Sekarang umurnya udah 32 tahun, lebih tua dari gue.” — kalimat model gini yang bikin engagement naik dan orang respect.
5. Lo Paksa Baju Itu ke Tubuh Lo Padahal Ukurannya Nggak Pas
Jangan maksa. Ukuran tubuh orang tua dulu mungkin beda dengan lo. Jangan pake celaga ayah yang kebesaran atau jaket mama yang kekecilan.
Solusinya: Bawa ke tailor. Ukuran bisa disesuaikan. Atau pilih potongan yang memang oversize (jaket, kemeja). Jangan pilih yang fitting kayak rok pensil atau celana ramping.
Practical Tips: Cara Memulai ‘Inheritance Fashion’ Tanja Drama
Buat lo yang mau ikut tren ini (atau sekadar cari gaya baru), ini panduannya:
1. Obrolin Dulu dengan Orang Tua Lo (Jangan Asal Ambil)
Jangan langsung ngacak-ngacak lemari. Ajak ngobrol. “Bu, aku boleh lihat-lihat baju lama ibu nggak? Lagi tren soalnya.” Hormati barang mereka. Siapa tahu koleksi mereka sangat berarti.
2. Cari “Statement Piece”, Bukan Seluruh Lemari
Jangan ambil semua. Cukup 2-3 item yang benar-benar menarik perhatian lo. Misal: jaket kulit, kemeja flanel, jeans cutbray, gaun dengan printing unik.
Rekomendasi item: Jaket denim, jaket kulit, kemeja kotak-kotak, kaus band tahun 90-an, hoodie vintage, dan aksesoris seperti ikat pinggang kulit atau jam tangan tua.
3. Restorasi dan Bersihkan
Bawa ke laundry atau dry cleaning terpercaya. Kalau ada yang jahitannya lepas, betulin. Kalau ada kancing yang hilang, ganti dengan yang mirip. Ini tanda lo menghargai pakaian itu, dan hasilnya akan lebih maksimal saat dipakai.
4. Mix and Match dengan Gaya Modern
Gunakan aturan 70-30: 70% gaya modern, 30% item warisan. Misalnya:
- Celana cargo hitam + kemeja kotak-kotak ayah + sneakers putih.
- Rok mini + kaus band 90-an + jaket denim mama.
- Blazer ayah + t-shirt putih + celana kulot hitam + flats.
5. Dokumentasikan dan Ceritakan
Ini bagian seru. Ketika lo posting outfit itu di media sosial, ceritakan asal-usulnya. Siapa yang punya? Dulu dipakai untuk apa? Kedengeran simple, tapi ini yang bikin konten lo lebih menarik. Orang jadi penasaran dan respect .
6. Hormati, Jangan Komodifikasi
Inget, ini pakaian yang punya nilai emosional buat orang tua lo. Jangan pake hanya untuk “konten”. Jangan jual hanya karena lagi viral. Ada makna di balik kain itu yang gak bisa diganti dengan uang .
Yang Sering Ditanyakan (Berdasarkan Pengalaman)
“Baju orang tua bajet jadul, gak keren lah.”
Siapa bilang? Gaya retro Y2K justru lagi puncak tren. Coba lihat feed-nya bintang K-Pop atau selebgram. Mereka banyak pake potongan 90-an/2000-an . Bedanya, mereka beli baru dengan harga mahal. Lo punya yang orisinal lebih keren dan autentik.
“Bukannya itu sama aja kayak pelit?”
Bukan pelit. Ini prioritas. Gen Z lebih milih alokasikan uang untuk traveling, investasi, atau pengalaman, daripada Fast fashion yang cepet rusak . Ini mindful consumption—sadar akan dampak belanja terhadap lingkungan dan dompet.
“Orang tua gue gak punya baju bagus.”
Setiap orang pasti punya setidaknya 1-2 item favorit dari masa mudanya. Coba cari: jaket, jam tangan, ikat pinggang, atau aksesoris. Gak harus full outfit. Satu statement piece cukup buat meng-upgrade penampilan.
“Gue takut merusak baju warisan.”
Wajar. Tapi ingat, pakaian dibuat untuk dipakai, bukan disimpan sampai lapuk. Dengan lo pakai dan merawatnya, lo justru memperpanjang umur pakaian itu . Rawat dengan baik (cuci tangan, hindari mesin pengering, simpan di tempat teduh).
Warisan yang Hidup, Bukan Debu di Lemari
Tren ‘pakai baju orang tua’ bukan sekadar nostalgia. Ini adalah gerakan sadar. Ini adalah caranya Gen Z mengatakan: “Saya tidak ingin konsumsi terus-menerus. Saya ingin pakaian yang punya arti.”
Fashion warisan mengajarkan kita bahwa barang bisa bertahan lama. Bukan cuma fisiknya, tapi ceritanya. Setiap kali lo pake jaket ayah, lo memori dia. Setiap kali lo pake gaun mama, lo jadi versi mudanya dia. Pakaian bukan penutup tubuh. Pakaian adalah pembawa cerita.
Jadi, besok pagi, coba lo buka lemari orang tua. Buka bagian paling belakang. Tanya: “Bu/Pak, dulu punya baju keren nggak?”
Siapa tahu lo nemu harta karun. Bukan yang mahal, tapi yang bermakna.